Loading...

Jumat, 09 Desember 2011

sejarah, cara pembuatan,moti, fungsi pakaian adat, pending, bulak molik, habas, selimut, tii langga rote ndao




                            Mengenal Ragam Tenunan Rote Ndao











Menelusuri perkembangan Teknologi Tenun lkat di Pulau Rote, diperkirakan sejak masa sejarah orang Rote sudah mengenal Tekhnologi menenun. sebelum mengenal kapas, mereka   membuat Kain Tenun dari bahan serat gewang. Tenunan yang dihasilkan berupa sarung yang disebut lambi tei dan selimutyang disebut Lafe tei, dipakai sebagai pakaian harian maupun pakaian pesta. Tahun 1994 Tim Survei dan pengadaan Koleksi Museum mengunjungi Pulau Rote,
Pada saat itu masih dijumpai seorang Nenek di Kampung Boni- Kec. Rote Barat Daya yang masih menggunakan kain dari bahan serat gewang. Begitu dalamnya kecintaan sang nenek  terhadap kain tenun dari serat gewang,
Hingga   akhirnya nenek tersebut pun enggan bahkan tidak mau menggunakan kain tenun dari benang kapas.
Masuknya Bangsa-bangsa luar ke Pulau rote, membawa perubahan pada berbagai aspek budaya termasuk teknologi Tenun. Penggunaan serat-serat tumbuhan mulai terganti dengan serat kapas yang diperkenalkan oleh para lmigran, seperti : serat kapas, dll. serat kapas merupakan serat terpopuler di dunia' kain yang terbuat dari serat ini disebut kain katun. serat kapas berasal dari tanaman Gossypium, sejenis belukar dengan tinggi antara 120-180 cm' Pada awalnya tanaman ini ditemukan di lndia sekitar tahun 5000 SM kemudian menyebar ke Barat dan Timur hingga ke wilayah Nusantara' sampai abad 19 wilayah Nusantara berswasembada lahan katun. Dengan diterapkannya politik Tanam paksa oleh Kolonial Belanda, maka pembudidayaan kapas mulai merosot dan sejak itu benang katun Amerika dan lndia menguasai pasar Nusantara'
Di Nusa Tenggara Timur pembudidayaan kapas mulai digalakan masa penjajahan Jepang. produksi kapas masa itu mengalami peningkatan yang pesat. Orang menanam kapas di kebun manaupun pekarangan rumah. Bahkan di beberapa wilayah di daratan Flores dibuka perkebunan - perkebunan kapas. Merekapun mulai mengenal tekhnologi pembuatan benang dan pewarnaan. orang Rote Ndao seperti halnya suku-suku lain di Nusa Tenggara Timur mengenal pembuatan kain
Tehun dengan tekhnik ikat. Tenunan yang di hasilkan dengan tekhnik ini dikenal dengan nama "Kain tenun lkat ".
Tidak dapat diketahui pasti sejak kapan mereka mengenal tekhnik ini. Cut Kamril Warhadi dalam buku "Tekstil" mengatakan bahwa seiak abad 10 pembuatan kain dengan teknik tenun ikat sudah berkembang di Pulau Jawa. Bahkan seiak masa prasejarah, Nusantara telah mengenal tenunan dengan corak yang dibuat dengan teknik ‘ikat lungsi' Daerah penghasil tenunan ini antara lain adalah pedalaman Kalimantan, sumatera, sulawesi dan Nusa Tenggara Timur. Dikatakan pula, bahwa menurut para ahli daerah-daerah ini tercatat paling awal mengembangkan corak tenun yang rumit ini. Mereka mempunyai kemampuan membuat alat-alat tenun, menciptakan corak dengan mengikat bagian-bagian tertentu dari benang dan mengenal pencelupan warna. Para ahli memperkirakan aspek-aspek kebudayaan tersebut dimiliki oleh masyarakat yang hidup pada jaman Perunggu di masa prasejarahNusantara,yang hidup sekitar abad 8 sampai abad 2 Sebelum Masehi.

Di Nusa Tenggara Timur Teknik Tenun ikat menyebar hampir diseluruh wilayah, kecuali Flores bagian Barat yang mengerjakan tenunan dengan teknik songket. Ada 3 jenis Tenun lkat dilihat dari teknik pembuatannya; yaitu tenun ikat lungsi, tenun ikat pakan, Dan tenun ikat ganda. Tenun lkat Lungsi adalah: pembentukan corak/ragam hias diikat pada susunan benang lungsi, untuk mengikat motif biasanya menggunakan sayatan daun gwang. Tenun lkat Pakan adalah pembentukan corak / ragam hias diikat pada susunan benang pakan. sedangkan Tenun lkat Ganda adalah tenunan yang ragam hiasnya diikat pada susunan benang lungsi dan benang pakan.
Pada masa lampau sebelum mengenal zat pewarna dari produk industri, orang Rote menggunakan pewarna tradisional, seperti mengkudu, tarum,kunyit,dll. Dewasa ini pewarna-pewarna dari bahan tradisional sudah tidak dipakai lagi. Orang Rote lebih cenderung menggunakan zat pewarna Nepthol, dibandingkan pewarna-pewarna tradisional.


                              CARA PEMBUATAN SELIMUT ATAU SARUNG ROTE NDAO

-     Benang putih diguling, kemudian dilolok( dipindahkan ke alat tenun) 
-     ditaruh dikayu pemidang, ikat bunga menggunakan tali raffia,tali pertama untuk putih.
-     kemudian dicelup ( celup hitam ) menggunakan bahan :
~ Sn
~ Tr O
~ Belerang
~ NaCl (garam)
-          Buka raffia untuk member  warna merah, bahannya ialah :
~ AsBO
~ TrO
~ Garam Diaso (Merah B)

-          Buka raffia untuk member warna kuning
~ Asg
~ TrO
~ Kustisoda
~ Garam Diaso (Kuning)

-          Dicuci sampai bersih dengan kanji dan dijemur hingga kering.
-          Setelah itu buka tali raffia semua dan dipindahkan ( diluruskan ) pada kayu pemidang.
-          Kemudian diratakan motif bunganya (ladarai)
-          Proses akhirnya ialah menenun dan setelah itu maka jadilah selimut/sarung.
                        ALAT – ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK MENENUN
-    Nggapi ( kayu pertama )
-         - Hajuiki ( kayu kecil 2 buah )
-h- haru tengah


-       -Haru ( diatas )
-    -Benang isi dalam ( saua )

-     -Pasetdu : untuk memadatkan benang-benang.
 Proses menenun baisanya memakan waktu tiga minggu per kain( sarung/selimut ), dan para Penenun biasanya menghabiskan waktu selama 6 jam sehari ( 11.00 – 17.00 ) untuk menenun. Oleh karena itu harga per kain ini mencapai Rp. 250.000,- tergantung motif dan waktu pembuatannya.


Fungsi kain tenun 

Kain Tenun tradisional memiliki arti penting dalam kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur, termasuk Orang Rote-Ndao. Pada masa lampau mereka mengenal adanya pengakuan terhadap kemampuan menenun bagi seorang penenun. Pengakuan tersebut berkaitan dengan layak tidaknya seorang wanita untuk dipinang oleh seorang pemuda.
Bagi orang Rote-Ndao,kedewasaan seorang wanita tidak saja ditentukan oleh usia semata. Kedewasaan tersebut diukur dari apakah sang gadis sudah dapat mengikat motif, mencelup, dan menenun. Apabila hal tersebut sudah bisa dipenuhi, maka sang gadis sudah pantas mempersiapkan diri menuju kehidupan berumah tangga. Kain tenun dibuat tidak saja untuk memenuhi kebutuhan akan pakaiah, tetapi lebih dari itu, kain tenun memiliki peranan penting dalam setiap aspek kehidupan masyarakat tradisional.               
Dalam kaitannya dengan adat perkawinan, kain tenun digunakan sebagai kelengkapan busana pengantin, barang antaran ( isi peti ), dan penutup tempat sirih pada upacara meminang gadis. Dalam kaitan dengan upacara kematian, kain tenun disamping dipakai untuk menutup jenasah, kain tenun juga dibentang di bagian bawah plafon rumah menutup tempat tidur jenasah.
Pada saat jenasah di angkat keluar rumah untuk dimakamkan, kain tenun yang dibentang diambil kembali dan disimpan oleh kepala suku. Kain tenun juga sebagai penentu status sosial seseorang.
Pada masa lampau orang Rote-Ndao sepertihalnya didaerah-daerahlaindiNusa Tenggara Timur, mengenal status sosial seseorang berdasarkan kedudukan dan tingkat kemakmuran hidup, ada golongan bangsawan, raja, fetor, rakyat biasa, orang kaya, miskin, dll. Dalam kaitan dengan stratifikasi sosial ini, maka pemakaian kain tenun dengan ragam hias tertehtu menjadi penentu status sosial seseorang. Seperti Kain Tenun untuk Raja, Kaum Bangsawan, panglima perang, ada kain tenun yang khusus dipakai oleh Fetor, dan ada kain yang khusus dipakai oleh rakyat biasa. Dewasa ini pemakaian kain tenun tidak lagi mengacu pada status sosial seseorang. Kain tenun khusus dipakai pada upacara.upacara adat, imbalan atas mas kawin dari pengantin pria, barang antaran kaum perempuan, dan sebagai benda ekonomi yang dapat memberi kontribusidalam meningkatkan pendapatan keluarga.


                                      Ragam hias pada kain tenun Rote-Ndao


Nusa Tenggara Timur adalah wilayah kepulauan yang memiliki variasi tenunan dan Ragam hias yang mempesona dengan sejuta makna yang tersirat dibalik lembaran tenunan. Dengan Ragam hias yang tertera pada tenunan yang dikenakan seseorang, merupakan identitas dari mana dia berasal.
Rote - Ndao merupakan suatu wilayah tenun yang memiliki aneka ragam motif. pembagian wilayah Nusak atau kerajaan-kerajaan kecil pada masa pemerintahan Raja-raja rupanya membawa perbedaan pada beberapa aspek, yang memperkaya khasana budaya orang Rote - Ndao.
Perbedaan itu terlihat pada bahasa dan dialek, motif tenunan, dan nama yang di berikan pada tenunan - tenunan yang dihasilkan; seperti halnya - Orang Bilba di wilayah Rote Timur menyebut sarung dengon namo Po,
 -          orang Dengka di Rote Barat menyebutnya dengan nama Lani / Lambik,
-          sedangkan orang Ndao menyebut dengan nama Rabi atau Rampi.


          Disamping itu masuknya bangsa luar ke Pulau Rote memberi inspirasi baru bagi penenun dalam pengembangan bentuk ragam hias yang ada. Motif jelamprang, tumpal/ pucuk rebung yang menjadi kekhasan pada kain Patola dari lndia, juga mempengaruhi pengembangan motif tenunan Pulau Rote; Seperti juga yang terdapat pada Tenunan Sika, Sabu, Ende-Lio, dll.

Motif Tenunan Rote-Ndao terbentuk darl motif dasar yang sama, yaitu ragam hias geometris yang dikembangkan oleh masing-masing kelompok penenun menjadi wujud-wujud yang memaknai kepercayaan dan falsafah hidup kelompok penganutnya. seperti yang diketahui, bahwasannya Motif geometris merupakan motif tertua yang dikenal sejak masa pra sejarah.
Motif ini pada mulanya berkembang di Negeri Cina, menyebar ke wilayah Asia tengggara, dan masuk ke Nusantara dibawa oleh Para imigran yang datang dalam dua gelombang eksodus.
Di Rote-Ndao motif Geometris dikembangkan menjadi bentuk tumbuh-tumbuhan, daun pohon, unggas, dan binatang laut. Masing-masing sub etnis memiliki spesifikasi yang memberi cirri/identitas bagi etnis-etnis di Rote-Ndao, seperti terlihat pada motif tenunan sbb :
Rote Tengah hingga ke RoteTimur (Kekasampe Oepao) motif tenunan nya adalah Bunga Halus yang lebih dikenal dengan nama "motif Nanelu Do= daun asam. Ada juga motif Rote Timuryang disebut: Ai Bunak.



Kain Tenun lkat Rote - Ndao apabila dilihat sepintas kilas tidak memiliki perbedaan yang signifikan antara satu etnis dengan etnis yang lain. namun bila dicermati, perbedaannya terletak pada pengembangan motif geometris menjadi bunga-bunga besar dan kecil. Penggunaan benang pewarna motif pada bidang sarung Rote Timur dominan menggunakan warna merah di atas warna dasar coklat kehitam-hitaman. Tenunan Rote bagian Barat umumnya didominasi benang warna putih di atas warna dasar hitam dan coklat kehitam-hitaman. Disamping itu penggunaan nama atau istilah yang diberikan pada bentuk-bentuk tenunan yang dihasilkan antara satu etnis dengan etnis yang lain pun berbeda
Satu hal yang menarik terdapat pada tenun ikat Rote-Ndao adalah dari perebedaan – perbedaan kecil yang ada pada setiap bentuk tenunan yang dihasilkan antar etnis, terdapat satu kesamaan yaitu untuk setiap selimut pria dari semua sub etnis, pada bagian ujungnya terdapat ragam hias tumpal / pucuk rebung, yang dikenal dengan nama motif Patola atau bunga pinggir. Apakah penggunaan motif ini karena adanya kesepakatan antara kepala-kepala suku atau para Raja antar Nusak pada masa lampau, ataukah sebagai wujud adanya adaptasi para penenun terhadap unsure pengaruh luar yang masuk ke wilayah Rote-Ndao.

Tidak diketahui pasti apa makna dibalik kehadiran ragam hias ini pada setiap ujung selimut pria Rote-Ndao. Namun dengan melihat kehidupan sosial antar etnis di wilayah Nusa Lontar ini, motif Pucuk Rebung / Bunga Pinggir kemungkinan memberi makna pada nilai pesatuan dan rasa keluargaan yang dalam antar warga dari ujung timur hingga ke ujung barat Pulau Rote, Ndao, Nuse, dan Pulaupulau kecil lainnya. Motif ini mempubikasikan p,ada dunia luar, bahwasannya kendatipun Rote Ndao terbentuk dari 17 kelompok etnis, tetapi mereka tetap satu sebagai warga penghuni Nusa Lontar.

                                                          Motif tenunan ndao

Ndao adalah sebuah pulau kecil yang penduduknya memiliki keterampilan pandai logam dan ketrampilan menenun. Pada bulan April-Oktober setiap Tahun kaum pria meninggalkan Ndao dan berlanglangbuana ke seluruh pelosok Nusa Tenggara Timur untuk membuat berbagai perhiasan perak maupun emas, sambil memasarkan kain tenun ikat hasil karya kaum perempuan mereka baru kembali ke Ndao pada bulan Nopember atau pun awal Desember.


Motif Ndao dikenal dengan nama " Hua Ana Langi ". Secara leksikal Ana Langi berarti lkan gergahing. Ana Langi adalah suatu motif yang memiliki nilai sakral  karena dipercaya bahwa motif ini merupakan pemberian Dewa laut. Dalam legenda turun-temurun diceritakan, bahwa pada masa purba pada awal mengenal tekhnologi tenun, orang Ndao hanya bisa menenun kain berwarna polos tanpa motif. Pada suatu malam, seorang penenun menyimpan benang yang sudah direntang pada alat tenun (lolok) di teras rumah. Keesokan harinya pada rentangan benang tersebut terlihat ada bentuk motif yang tergambar menggunakan air liur binatang. Motif tersebut berbentuk binatang laut, yang disebut " Ana Langi ".

Di kalangan orang Ndao Motif ini dipandang sebagai sesuatu yang sakral untuk membentuk motif harus dikerjakan secara hati- hati, karena apabila terdapat kesalahan akan berakibat kematian bagi yang melakukan. Motif ini pun hanya bisa dikerjakan oleh orang Ndao, dan tidak boleh ditiru orang lain. Para penenun masa kini tidak lagi membuat motif Ana Langi, karena mereka takut terjadi kesalahan yang nantinya akan berakibat kematian.
Pada masa lampau motif ini hanya dapat di tenun pada kain yang khusus dipakai oleh Raja dan Ratu. Selain motif Hua Ana Langi, orang Ndao juga mengenal motif Ketu Bela = belahan kepala, Kebeba dari = kupu-kupu, kaleko = bagian pinggir, hua = bunga, motif mamuli.
Pengembangan motif dari bentuk dasar, merupakan hasil adaptasi masyarakat penenun dengan alam sekitar, masuknya pengaruh-pengaruh Iuar,dll.
Motif kebeba ( kupu-kupu )
Tenunan Rote-Ndao masa kini
Pada Tahun 1994 Tim survey dan Pengadaan Koleksi mengunjungi Pulau Rote dan berlanjut lagi pada Tahun 2005. saat itu Tim Museum masih menyaksikan para lbu dan kaum Bapa, tua-muda mengenakan kain tenun,baik itudirumah, dipasar, maupun dijalan. Tim masih menyaksikan lentiknya jari-jemari kaum wanita Rote menari di atas lembaran benang untuk memintal, mengikat motif hingga menenun. Pada masa itu,  perempuan - perempuan Rote umumnya pandai menenun oleh karena tingkat kedewasaan seorang perempuan terukur dari apabila seorang perempuan sudah dapat mengikat motif, mencelup benang dalam ramuan pewarna, dan pandai menenun. Hal ini juga menjadi kriteria bagi seorang pria dalam mencari pasangan hidupnya.
Pada Tahun 2009, Tim kembali mengunjungi bumi Nusa Lontar. Kerinduan tim untuk bertemu dengan kaum ibu maupun Bapa yang mengenakan sarung maupun selimut tidak terwujud. di wilayah lain di Propinsi NTI saat ini masih sering dijumpahi kaum ibu maupun Bapa mengenakan sarung ataupun selimut, entah itu di pasar, dijalan-jalan, dalam kelompok ibu-ibu arisan, pesta-pesta adat,dll. Hal seperti ini tidak lagi dijumpai di Pulau Rote. seorang Bapa yang dijumpai tim di pasar busalangga mengatakan, saat ini Kain tenun jarang dipakai sebagai pakaian harian' Kain Tenun hanya dipakai pada upacara-upacara adat, itupun hanya dikenakan oleh orang-orangtua, sedangkan anak muda bahkan yang separuh baya pun sudah jarang memakai tenun ikat. Namun demikian dalam kaitannya dengan urusan-urusan adat tertentu, kain tenun tidak dapat digantikan dengan kain buatan pabrik.
Dari hasil wawancara Tim dengan beberapa orang Nara Sumber dan pengamatan
langsung di lapangan, diketahui bahwasannya dewasa ini di Pulau Rote kaum ibu yang dulunya menggeluti pekerjaan menenun sebagai salah satu dari pekerjaan yang membantu perekonomian keluarga, dan memenuhi kebutuhan pakaian yang dipakai dalam setiap upacara adat, saat ini hampir tidak dikerjakan lagi. Kaum ibu cenderung membantu suami bekerja di kebun dan sawah, serta pembudidayaan rumput laut yang dirasa lebih menguntungkan dibanding mengerjakan selembar tenunan.
Hal yang menarik dari perubahan ini adalah, pekerjaan menenun dewasa ini hanya menjadi perkejaan pokok wanita suku ndao.Apabila suku-suku lain membutuhkan kain tenun, mereka hanya memesan pada orang ndao, dan orang ndao pun mengerjakan tenunan sesuai pesanan. Dalam kaitan pemesanan kain tenun, biasanya para pemesan hanya memberikan gambar motif, atau menyebutkan jenis motif yang diinginkan.          Dampak dari perubahan yang terjadi adalah bergesernya nilai-nilai dasar tenunan yang dulunya memiliki fungsi utama sebagai benda budaya yang dipakai dalam urusan-urusan adat, saat ini lebih diutamakan pada fungsi ekonomi. Dalam kaitan dengan fungsi ini, kain-kain tenun Rote-Ndao dalam berbagai bentuk, dan ragam hias karya kaum perempuan Ndao menjadi pajangan menarik
Dampak lain dari pergeseran nilai pada tenun ikat adalah para penenun tidak lagi
menggunakan benang kapas dan pewarna tradisional, dengan alasan bahwa bahan dan tekhnologi itu hanya berlaku masa lampau dan tidak berlaku untuk masa kini. Disamping itu apabila menggunakan bahan dan tekhnologi tradisional proses pembuatannya panjang dan rumit. Mereka lebih cenderung menggunakan benang toko dan pewarna nephtol. Ragam hias yang dikerjakan pun meniru gambar-gambar dari buku, ataupun ciptaan sendiri, sebagai hasil adaptasi dengan lingkungan alam. sehingga makna yang terkandung di balik tanda-tanda lambang tidak lagi mengacu pada konsepsi dasar yang mengandung pesan tertentu.
Para penenun saat ini tidak lagi memahami makna yang tersirat dibalik ragam hias tenunan. Hal ini disebabkan karena tujuan utama membuat kain tenun tidak lagi mengacu pada konsep dasar sebagai benda yang dibuat karena tuntutan adat dan budaya, tetapi lebih diutamakan pada tuntutan ekonomi. Dewasa ini peranan pihak Dinas Perindustrian dalam mengembangkan Tenun lkat yang bernilai ekonomis cukup besar. Kampung Ndao - Desa Namokdale - Kota Ba'a, menjadi pusat kerajinan Tenun lkat. Para penenun adalah kaum perempuan suku Ndao. Mereka diberi pelatihan-pelatihan, hingga mengikuti magang ke beberapa kota diwilayah Nusantara.

PENDING
Pending merupakan perhiasan yang terbuat dari kuningan, tembaga, perak dan emas dan biasa dipakaikan pada pinggang pada saat megunakan pakaian adat/sebagai perlengkapan dari pakaian adat.
Menurut bapak Christofel Kotten bahwa pending ini dikenal dari nenek moyang dan pending ini biasanya dikerjakan oleh orang-orang Ndao, menurut orang Ndao pending disebut juga dengan peni. Jika orang-orang pengrajin in keluar kekota-kota makan mereka akan membawa alat-alat perkakas- perkakas mereka seprti : hamar, pahat dan alat-alat ukir lainnya. Pending ini dikerjakan oleh nenek moyang secara turun temurun.
Pembuatan pending ini menggunakan alat dan bahan seperti :
-          Hamar
-          Pahat dan
-          Alat-alat ukir
-          Tembaga
-          Kuningan
-          Emas dan
-          Perak
Pembuatan pending ini diawali dengan tembaga, atau ada juga yang disebut dengan seng tembaga yang bewarna merah digunting sesuai dengan ukuran pinggang kemudian dibentuk menjadi delapan kepingan, masing-masing keping mempunyai ukuran, yaitu panjangnya 10 cm, lebarnya 3 cm atau 4 cm dan pinggirnya dilas supaya ukurannya menjadi tebal untuk lesnya.
Setelah lesnya ditempel pada papan yang berbentuk keping kemudian ukir dengan motif-motif, setelah itu jika terhitung 9 kepingan maka disambungkan dengan hensel dan hensel-hensel tersebut di ukur sesuai dengan ukuran pinggang. 9 kepingan dihitung dari 1 yang termasuk kepala yang berbentuk bulat, maka dari itu harus dilas salah satu jepit kepalanya sehingga dapat disambungkan ujungnya dan setiap hensel harus di buat lubang agar bias disambungkan dengan kepalanya, dibagian kepalanya ditempelkan perak, kemudian dilas supaya bisa ditempelkan.

Motif-,motif pada pending biasanya :
-          Motif bunga dan
-          Motif hewan.


HABAS
Habas merupakan hiasan pada leher dan dipakai pada saat acara adat atau hari-hari tertentu seperti pada perayaan HUT RI.



Sejarah tentang Habas ini Orang Ndao yang kami wawancarai mengatakan bahwa habas  dikenal dan diajarkan secara turun-temurun sehingga untuk orang yang menemukannya tidak diketahui.
Pembuatan Habas ini menggunakan alat dan bahan seperti :
-          Mal
-          Tang
-          Hamar
-          Kuningan
-          Tembaga
-          Perak dan
-          Emas
Menurut bapak Christofel Kotten proses pembuatan Habas ini, pertama kita harus memilih kabel yang halus seperti tembaga kemudian dianyam, disini dibutuhkan kabel yang halus karena kabel yang halus lebih mudah dan gampang untuk dianyam/dibentuk. Setelah itu ambil kuningan yang disiapkan dan ditumbuk, kemudian dibakar sampai menjadi kawat yang halus dan setelah itu disimpan diatas mal yang ada lubang-lubangnya. Kawat yang sudah ditumbuk halus kemudian dianyam.
Habas dibentuk dengan ukuran 50 cm untuk yang sudah jadi,namun ketika dianyam hanya menjadi 25 cm. jika Habas sudah jadi maka dapat digantungkan mata rantainya. Dan untuk mata rantainya dibuat dari logam, logam di tumbuk menjadi pelat kemudian dibuat motif-motifnya agar menjadi mata rantai yang bagus, motif-motif yang dibuat berupa motif hewan dan motif bunga.

BULAK MOLIK ( Bulan Baru )

Bulak Molik adalah salah satu bagian dari pakaian adat Rote Ndao yang biasanya dikenakan oleh wanita yang dipasangkan dibagian depan dahi. Bulak molik sendiri berbentuk bulan dengan tiga buah bintang. Bulak molik artinya bulan baru, bentuk ini terinspirasi oleh seseorang dari bulan dan formasi bintang dari langit.
Cara pembuatan Bulak Molik sendiri sebenarnya lumayan susah karena dibuat secara manual, dan harus orang yang sudah terbiasa dibidangnya, dibawah ini adalah beberapa langkah pembuatan yang sudah kami ringkas adalah sebagai berikut :
-          Bulak Molik yang dibuat pada dasarnya terbuat dari emas, perak, kuningan dan perunggu.
-          Jika ingin membuat bulak molik dari emas dan perak, pertama-tama dilebur, kemudian dipalu hingga memanjang (pipih).
-          Digunting sesuai bentuk bulan sabit
-          Mengukir motif sesuai keinginan  yaitu pada permukaan lempengan bulan sabit tersebut dengan menggunakan pahat yang telah dibentuk sesuai fungsinya.
-          Sementara itu, ambil lempengan yang merupakan bekas pembentukan lempengan bulan sabit tersebut, untuk dibentuk kembali menjadi bintang ( 3 tiga bintang yang harus dibuat )
-          Pada akhirnya, lempengan yang sudah dibentuk dan diukir, dicuci dengan sabun, jika terbuat dari kuningan atau perunggu, maka cuci dengan cairan perak.
Sejarah tentang bulak molik menurut nara sumber yang kami wawancarai menceritakan bahwa pada suatu hari ada satu keluarga yang hidup bahagia. Didalam keluarga tersebut terdiri sepasang suami istri dan dua orang anaknay. Sang suami memiliki pekerjaan menyadap tuak, ketika sang suami memanjat pohon, ia melihat formasi bulan dan bintang yang begitu indah. Dari situlah terlintas suatu pemikiran bahwa dengan keindahan formasi tersebut ia dapat memiliki pekerjaan yang lebih baik, sang suami akhirnya memutuskan untuk membuat aksesoris kepala yang terbuat dari emas dengan motif bulan sabit dan tiga bintang, karena terbuat dari emas, aksesoris tersebut dijual dengan harga yang cukup mahal sekitar Rp. 200.000,-.



Penulis : Vicky Rinaldo Soeki 
Data dikumpulkan melalui penelitian dan diambil dari buku pakaian adat rote  ndao,

SEMOGA BERMANFAAT